Fear will change everthing and everyone

May 26th, 2008 by theothersideofmylife

“Sure, as long as the machines are working and you can dial 911. But you take those things away, you throw people in the dark, you scare the shit out of them - no more rules”

Diatas adalah dialog yang diucapkan oleh David Drayton, tokoh utama dari film berjudul The Mist, garapan sutradara Frank Darabont dan merupakan adaptasi dari novel karangan Stephen Kings yang memiliki judul yang sama.

Alasan saya menempatkan dialog tersebut pada awal tulisan karena itu merupakan esensi utama dari film ini, bisa dikatakan semacam ‘the core idea’. Film ini berkisar tentang ketidakberdayanya manusia ditengah ancaman teror dan ketakutan akan sesuatu hal yang tidak mereka mengerti. Bila saat itu terjadi, hanya satu hal yang mereka pikirkan: ‘Bagaimana menyelamatkan nyawa sendiri’. segala norma dan tata tertib tidak berlaku, hati tidak lagi menentukan sikap dan perasaan, dan nyawa manusia lain menjadi tidak ada harganya.

Memang sudah banyak film-film yang mengusung esensi seperti ini, yang bisa saya ingat sekarang adalah The Saw, namun masih banyak film horror-thriller lainnya yang serupa. Yang membuat The Mist berbeda adalah kemampuan si penulis naskah untuk menciptakan konflik-konflik manusiawi yang terasa sangat nyata, sehingga membuat penonton merasa bahwa mereka mungkin bertindak seperti yang diperankan oleh para tokoh di film apabila mereka terperangkap dalam situasi yang sama.

Bukan akting para pemainnya yang membuat saya terkesima, mereka cukup bagus membawakan peran mereka masing-masing, namun saya percaya itu disebabkan oleh plot cerdas yang diciptakan si penulis naskah. Yep, sebuah plot yang teratur dan sukses membangun ketegangan demi ketegangan dengan rapih hingga akhirnya mencapai klimaks yang mengagumkan.

Film ini membuat saya mengeluarkan sumpah serapah dan membuat saya benar-benar membenci tokoh-tokoh antagonis di dalamnya. Hal ini berarti The Mist mampu membawa saya terhanyut ke dalam cerita. Coba sempatkan menonton dan mungkin Anda akan mengerti apa yang saya maksud di post ini.

FEAR WILL CHANGE EVERYTHING AND EVERYONE

Sekian.

Fear will change everthing and everyone

May 26th, 2008 by theothersideofmylife

“Sure, as long as the machines are working and you can dial 911. But you take those things away, you throw people in the dark, you scare the shit out of them - no more rules”

Diatas adalah dialog yang diucapkan oleh David Drayton, tokoh utama dari film berjudul The Mist, garapan sutradara Frank Darabont dan merupakan adaptasi dari novel karangan Stephen Kings yang memiliki judul yang sama.

Alasan saya menempatkan dialog tersebut pada awal tulisan karena itu merupakan esensi utama dari film ini, bisa dikatakan semacam ‘the core idea’. Film ini berkisar tentang ketidakberdayanya manusia ditengah ancaman teror dan ketakutan akan sesuatu hal yang tidak mereka mengerti. Bila saat itu terjadi, hanya satu hal yang mereka pikirkan: ‘Bagaimana menyelamatkan nyawa sendiri’. segala norma dan tata tertib tidak berlaku, hati tidak lagi menentukan sikap dan perasaan, dan nyawa manusia lain menjadi tidak ada harganya.

Memang sudah banyak film-film yang mengusung esensi seperti ini, yang bisa saya ingat sekarang adalah The Saw, namun masih banyak film horror-thriller lainnya yang serupa. Yang membuat The Mist berbeda adalah kemampuan si penulis naskah untuk menciptakan konflik-konflik manusiawi yang terasa sangat nyata, sehingga membuat penonton merasa bahwa mereka mungkin bertindak seperti yang diperankan oleh para tokoh di film apabila mereka terperangkap dalam situasi yang sama.

Bukan akting para pemainnya yang membuat saya terkesima, mereka cukup bagus membawakan peran mereka masing-masing, namun saya percaya itu disebabkan oleh plot cerdas yang diciptakan si penulis naskah. Yep, sebuah plot yang teratur dan sukses membangun ketegangan demi ketegangan dengan rapih hingga akhirnya mencapai klimaks yang mengagumkan.

Film ini membuat saya mengeluarkan sumpah serapah dan membuat saya benar-benar membenci tokoh-tokoh antagonis di dalamnya. Hal ini berarti The Mist mampu membawa saya terhanyut ke dalam cerita. Coba sempatkan menonton dan mungkin Anda akan mengerti apa yang saya maksud di post ini.

FEAR WILL CHANGE EVERYTHING AND EVERYONE

Sekian.

Fear will change everthing and everyone

May 26th, 2008 by theothersideofmylife

“Sure, as long as the machines are working and you can dial 911. But you take those things away, you throw people in the dark, you scare the shit out of them - no more rules”

Diatas adalah dialog yang diucapkan oleh David Drayton, tokoh utama dari film berjudul The Mist, garapan sutradara Frank Darabont dan merupakan adaptasi dari novel karangan Stephen Kings yang memiliki judul yang sama.

Alasan saya menempatkan dialog tersebut pada awal tulisan karena itu merupakan esensi utama dari film ini, bisa dikatakan semacam ‘the core idea’. Film ini berkisar tentang ketidakberdayanya manusia ditengah ancaman teror dan ketakutan akan sesuatu hal yang tidak mereka mengerti. Bila saat itu terjadi, hanya satu hal yang mereka pikirkan: ‘Bagaimana menyelamatkan nyawa sendiri’. segala norma dan tata tertib tidak berlaku, hati tidak lagi menentukan sikap dan perasaan, dan nyawa manusia lain menjadi tidak ada harganya.

Memang sudah banyak film-film yang mengusung esensi seperti ini, yang bisa saya ingat sekarang adalah The Saw, namun masih banyak film horror-thriller lainnya yang serupa. Yang membuat The Mist berbeda adalah kemampuan si penulis naskah untuk menciptakan konflik-konflik manusiawi yang terasa sangat nyata, sehingga membuat penonton merasa bahwa mereka mungkin bertindak seperti yang diperankan oleh para tokoh di film apabila mereka terperangkap dalam situasi yang sama.

Bukan akting para pemainnya yang membuat saya terkesima, mereka cukup bagus membawakan peran mereka masing-masing, namun saya percaya itu disebabkan oleh plot cerdas yang diciptakan si penulis naskah. Yep, sebuah plot yang teratur dan sukses membangun ketegangan demi ketegangan dengan rapih hingga akhirnya mencapai klimaks yang mengagumkan.

Film ini membuat saya mengeluarkan sumpah serapah dan membuat saya benar-benar membenci tokoh-tokoh antagonis di dalamnya. Hal ini berarti The Mist mampu membawa saya terhanyut ke dalam cerita. Coba sempatkan menonton dan mungkin Anda akan mengerti apa yang saya maksud di post ini.

FEAR WILL CHANGE EVERYTHING AND EVERYONE

Sekian.

Havaianas, the color temptation

June 1st, 2007 by theothersideofmylife

Ibaratnya roda yang berputar, sekarang jaman pun sedang berputar. begitu juga dengan status sandal jepit yang sekarang ini sedang naik level menjadi komoditi fashion yang chic dan trendi.

Disamping merek-merek sandal jepit mahal seperti Roxy, Billabong, Rip Curl, dll ada Havaianas, sebuah merk asli Brazil yang benar-benar berhasil mengangkat status dan imej sendal jepit menjadi produk eksklusif. Walaupun hanya sebuah sendal jepit, tetapi Havaianas beda daripada merk lain. Banyak konsumen setia berpendapat kalau bahan karetnya nyaman dan awet (sudah tentu kalau harganya saja untuk satu pasang bisa mencapai Rp. 500.000,-). Tapi yang paling menarik dari produk-produk Havaianas adalah pilihan warnanya yang seribu satu macam serta pilihan disain dan model yang unik dan kurang lebih khas Brazil.

Selain itu, yang membuat sandal ini menarik adalah strategi branding yang kuat. Bila ada waktu dan penasaran, Anda bisa cek www.havaianas.com baru Anda bisa mengerti apa yang saya maksudkan. Tampilan dan disain web site itu sangat menarik, penuh dengan harmoni perpaduan warna yang merangsang perhatian sensor di pikiran kita.

Bukan hanya perihal web site, print-ads Havaianas juga berperan besar dalam mendukung strategi branding merk ini. (to be continued)

Jiper

June 1st, 2007 by theothersideofmylife

No working experiences meaning no opportunity?

Saat kelulusan tiba memang melegakan dan menyenangkan, tapi setelah itu ada masalah besar menghadang di depan, yaitu: Mencari Kerja…Pertama sih semangat, tapi setelah menyadari kalau pengalaman kerja kurang ahhhh, jadi lemas dan minder gue….

Setelah diliat-liat, kolom experiences adalah kolom paling penting dalam resume, yang lain yah beberapa persen saja lah pentingnya. Di resume gue justru bagian paling penting itulah dimana paling kosong, ibaratnya lagi ujian, gimana mau dapet nilai banyak kalau pertanyaan dengan nilai terbesarnya enggak bisa dijawab.

Yah yah yah….jiper memang, tapi beberapa teman mengingatkan untuk tetap Maju pantang mundurrrrrr! sapa tau keberuntungan lagi berbaik hati dengan gue, sehingga pada akhirnya bisa mendapatkan kerja dengan banyak kekosongan di kolom working experiences itu….

Smangat….for all the job hunters out there!

Wake up Indonesian Brands

March 7th, 2007 by theothersideofmylife

Before you start reading this post, try to name at least five Indonesian brands which are famous regionally or internationally within five minutes.
One…
Two…
Three…
Four…
Five…and stop!

So how, do you manage to name five? Or even not a single one?

I couldn’t name one within five minutes. Maybe I could if the time limit is extended to 10 minutes, well umm maybe 20, or erm, an hour…I’m not sure. I won’t say that there are none but maybe there aren’t many Indonesian brands out there that have gained regional or international fame. This is a problem for our country. We almost don’t have powerful brands recognized by the international community. It’s ironic and sad because we have the resources, creativities, and talents yet until now we are still not able to make full use of them to create world-leading brands.

In fact, we are left behind the other Asian countries as Malaysia, Taiwan, Singapore, and Japan. Malaysia got Royal Selangor, a successful international brand which is now retailed in upscale outlets around the world, such as Harrods of London, David Jones of Australia, and the museum of Modern Art Gift Shop in New York. Next, Malaysia got Padini Holdings, the mother company of Malaysians well-known brands such as Padini, PDI, and the one and only VINCCI. Last but not least, Malaysia has Air Asia, the Asia’s most famous affordable flights.

Taiwan has Acer and NAUTICA. Yes, NAUTICA was actually made by a Taiwanese- born business man named David Chu (I was a bit surprised when I knew this, I used to think NAUTICA was an European or American brand such as CAT or Lacoste). Singapore is famous for its Singapore Airlines and SingTel. The last is Japan, which I don’t need to tell because I’m sure y’all could name the brands less within 5 minutes.

Then what happened to Indonesia? It’s about time for us to take more account on this matter because the impact of international brand is not only beneficial for the host companies, but it will also give a lot contribution for our country, especially in terms of economical factor. Besides that, having strong domestic brands which are known worldwide would give a good image for Indonesia. They would be the country’s representatives in the international community. So the world will know that we actually have ‘the quality’ to compete.

I think this ‘left behind’ situation is not an obstacle, but it is actually an opportunity for us to create strong brands of our own. Remember, we already had the resources, creativities, and talents, we only need to build-up our will and passion to create something brilliant from these valuable assets.

It’s nice to know that Indonesia already had a few strong brands which are known internationally but still formed as small players. For example: Batik Iwan Tirta, which is adored by foreigners and a batik boutique named Bin House, one of the famous foreign tourist destinations in Jakarta. These brands are on their way to soar and hopefully they will achieve international success as Royal Selangor or NAUTICA.

As Indonesian young generations, we need to be optimistic and inspired because who knows, we might be the future creators of world-leading brands. Think globally, start today because big success comes up from little things :)

Secret Recipe presents: the irresistible CORNISH

January 6th, 2007 by theothersideofmylife

Secret Recipe bukan hanya unggul di cake aja, tapi menu-menu makanan yang ditawarin juga menawarkan rasa dan kualitas yang memuaskan. Salah satu yang patut dicoba selain jenis cake-nya yang beragam adalah sebuah pastry yang bernama ‘Cornish’. Pastry ini bentuknya mirip pastel raksasa karena memang ukurannya lumayan besar, oleh karena itu, satu pastry sudah cukup untuk mengganjal perut kita yang laper. Gue udah pernah coba makan pastry ini dan mesen satu potong American Brownies sebagai pencuci mulut. Alhasil, belum habis semua Cornish-nya, perut gue udah nggak kuat lagi.

Tentang rasa, Cornish ini highly recommended. Kulit Pastry yang renyah dan hangat terasa sangat nikmat begitu kita gigit. Setelah itu, isi pastry yang sedikit spicy dan sangat gurih membuat rasa Cornish ini nyaris sempurna. Isi pastry-nya terdiri dari daging ayam yang disuir-suir, kentang rebus yang dipotong dadu kecil-kecil, serta bumbu yang gurih dan spicy (hampir mirip sama kuah kari tapi dengan rasa yang ringan-tidak medok). Paling nikmat dimakan selagi hangat ditemani oleh teh botol.

Cornish ini sama sekali enggak eneg, ukurannya memang lumayan besar, tapi rasanya yang gurih bakal buat elo ketagihan untuk ngabisin semua bagiannya.

Kalau sewaktu-waktu lapar dan kebetulan berada di dekat Secret Recipe, coba sempetin untuk nyoba Cornish ini. Tersedia dua pilihan, yaitu spicy Cornish dan Cornish yang biasa. Menurut gue, lebih baik pilih yang spicy karena rasanya lebih tajam dan pas, jangan khawatirin kata ‘spicy’-nya karena Cornish ini tidak pedas. Bagi yang suka pedas, bisa ditambah dengan sambal botol. Jadi, mari dicoba……

Japanese Curry

January 6th, 2007 by theothersideofmylife

Hurry Curry - Japanese (Lt.2 Setiabudi One)

Hurry? Well namanya emang agak sedikit aneh, tapi makanan-nya nggak ngecewain. Sesuai dengan label Curry yang dipake di nama restoran ini, Hurry Curry nawarin makanan Jepang yang dikombinasiin sama Kari ala Jepang. Orang Jepang familiar banget sama kari,makanan ini termasuk dalam menu sehari-harinya di sana. Oleh karena itu banyak resto Jepang di luar negeri yang nawarin kari dalam menu mereka, begitu juga dengan resto-resto Jepang di Jakarta. Walaupun begitu, masih sedikit yang jadiin kari sebagai menu utama. Oleh sebab itu, begitu gue baca ‘Curry-Japanese’, gue langsung tertarik untuk coba resto ini. Dan ternyata rasanya enak banget! Campuran bumbu kari-nya pas sehingga tidak medok dan rasanya hampir mirip saus barbeque yang terasa lebih spicy dan berempah. Lumayan, sehabis makan cukup buat perut terasa hangat.

Kuah kari-nya disajiin di mangkok sendiri, sehingga yang ada di piring hanya nasi putih dan lauk yang bisa kita pilih (seperti: chicken cutlet, risoles, beef cutlet, tahu Jepang, ataupun seafood). Lauk-lauk ini kebanyakan digoreng, jadi hampir mirip seperti Hoka Hoka Bento, hanya saja rasa mereka sengaja dibuat nggak terlalu kuat sehingga tidak ngalahin rasa kuah karinya begitu kita makan secara bersamaan.

Jangan kira rasa kari-nya sama seperti kari India yang medok and eneg buat sebagian orang. Kuah kari Jepang rasanya lebih ringan dan nggak bikin eneg, bahkan kalau dimakan begitu saja juga enak, yummy! Soalnya gue kuat ngabisin kuahnya doang sebanyak satu mangkok, hehehehehe. Begitu lauk gue abis, gue mikir coba gue boleh beli pastry diluar trus makan sambil dicelupin ke kuah kari-nya, hmm dijamin enak, yah mirip-mirip cara makan roti Canai-lah. Mungkin ini bisa dijadiin ide baik kalau sewaktu-waktu beli kuah karinya untuk dibawa pulang :P

Pokoknya recommended deh kuah kari-nya. Harga makanan yang ditawarin berkisar antara 30rb-50rb-an. Yang serunya, kita bisa minta re-fill Ocha hangat atau dingin :) Lumayan, itung-itung penghematan.

Selain kari, resto ini juga nyediain pasta, bento, dan ramen. Rame yah menu-nya!? Gue belum pernah coba menu yang non-kari, tapi gue rasa nggak bakal ngecewain juga :)

So, buat yang suka Kari India, makan di Hurry Curry bisa jadi pengalaman untuk ngerasain jenis kari yang sedikit beda. Kalau untuk yang nggak suka kari India, mungkin bisa lebih toleransi sama kari Jepang di Hurry Curry. Patut dicoba, hayo….

Tebak donk

November 10th, 2006 by theothersideofmylife

Petunjuk:

Murid-murid keliatan buru-buru jalan di koridor.
Shot outs di frenster berubah jadi seperti: “only … days to go, semangat!” ato “…pusink and capek…”
Lab kom (terutama Leadership 2) penuh dan antrian nge-print jadi tambah panjang dari biasanya.
Faculty juga jadi penuh, telpon internal juga jadi ngantri.
Dosen-dosen jadi lebih populer di kalangan murid.
Sapaan favorit kalau ketemu temen di kampus: “udah selese belom?”
Mata orang-orang jadi berkantung hitam.
Murid-murid pada ngerayu dosen minta extension.
Banyak yang nge-print cover sheet.
Orang-orang disuruh ngantri dikit udah pada protes…
Dan…murid-murid jadi lebih sering inget Yang Di-atas

Pertanyaan:
Apakah nama sebuah suasana yang menggambarkan semua petunjuk diatas?

Jawaban…
Hari-hari terakhir semester di LKW.

Hhhh

August 25th, 2006 by theothersideofmylife

Mau pulang….
Pulang…